Usaha

Menghitung Napas Modal: Mengapa Peternak Ayam Petelur Kerap Kehabisan Pakan di Tengah Jalan

Banyak peternak pemula tergiur keuntungan cepat tanpa menyadari ada "fase kosong" berbulan-bulan yang terus menguras dompet sebelum telur pertama siap dijual

H
Hadi
• 📅 30 Sep 2026 • ⏱️ 3 min baca • 👁️ 0x dibaca

Menghitung Napas Modal: Mengapa Peternak Ayam Petelur Kerap Kehabisan Pakan di Tengah Jalan

Banyak peternak pemula tergiur keuntungan cepat tanpa menyadari ada "fase kosong" berbulan-bulan yang terus menguras dompet sebelum telur pertama siap dijual.

Bayangkan skenario ini: kandang sudah berdiri kokoh, ribuan bibit ayam (pullet) berumur 13 minggu sudah masuk, dan semua tampak berjalan sesuai rencana. Namun, memasuki minggu ke-17, dompet mulai menipis. Sementara itu, ayam-ayam di kandang belum juga menghasilkan telur yang layak jual, padahal nafsu makan mereka justru sedang tinggi-tingginya.

Keadaan ini adalah momok yang kerap dihadapi peternak ayam petelur pemula. Istilah kasarnya: kehabisan napas sebelum finis. Di dunia peternakan telur, pakan bukan sekadar komponen biaya operasional biasa. Nilainya bisa mencapai 70 hingga 80 persen dari total biaya pemeliharaan. Salah menghitung cadangan modal untuk pakan ini di awal sama saja dengan mengundang kegagalan investasi.

Fase Rawan: Umur 13 hingga 22 Minggu

Kesalahan paling umum adalah menganggap pengeluaran pakan langsung tertutupi oleh hasil penjualan telur sejak hari pertama ayam bertelur. Kenyataannya tidak sesederhana itu.

Jika peternak membeli pullet di umur 13 minggu, ayam-ayam tersebut biasanya baru mulai belajar bertelur pada umur 18 hingga 20 minggu. Itu pun persentase produksinya masih sangat kecil, mungkin hanya 5 persen dari populasi. Ukuran telurnya juga masih kecil-kecil (sering disebut telur pasir) yang harganya di pasar relatif rendah.

Ayam baru mencapai puncak produksi—di mana hasil penjualan telur benar-benar bisa menutup biaya pakan harian dan memberikan keuntungan—saat memasuki umur 22 hingga 25 minggu.

Artinya, ada rentang waktu sekitar 8 hingga 12 minggu di mana peternak harus terus-menerus membeli pakan murni dari modal awal, tanpa ada pemasukan yang sebanding dari kandang.

Simulasi Sederhana Hitungan Pakan

Mari kita lihat angka kasarnya agar gambaran finansialnya lebih jelas. Kita ambil contoh populasi skala kecil, yaitu 1.000 ekor ayam.

Secara rata-rata, satu ekor ayam petelur dewasa membutuhkan sekitar 110 hingga 120 gram pakan per hari.

  • Konsumsi harian: 1.000 ekor x 115 gram = 115 kg pakan per hari.
  • Kebutuhan bulanan: 115 kg x 30 hari = 3.450 kg (atau sekitar 69 karung pakan isi 50 kg).
  • Estimasi biaya: Jika harga pakan berkualitas saat ini berada di kisaran Rp8.500 per kg, maka biaya pakan per bulan mencapai sekitar Rp29.325.000.

Jika peternak harus menanggung biaya pakan mandiri selama minimal 2,5 bulan sebelum ayam bertelur dengan stabil, maka modal pakan cadangan yang wajib dipegang di awal adalah sekitar Rp73.000.000 untuk 1.000 ekor ayam tersebut.

Angka ini sering kali luput dari kalkulasi awal. Banyak yang mengira modal cukup untuk membeli pullet dan membangun kandang, lalu mengandalkan sisa uang belanja yang pas-pasan untuk membeli pakan mingguan.

Dampak Fatal Pengurangan Kualitas Pakan

Ketika modal mulai menipis di tengah jalan, kepanikan biasanya membuat peternak mengambil keputusan instan yang keliru: menurunkan kualitas pakan atau menggantinya dengan bahan yang lebih murah secara mendadak.

Langkah ini justru memperburuk keadaan. Ayam petelur sangat sensitif terhadap perubahan nutrisi. Begitu pakan dikurangi kualitasnya, perkembangan organ reproduksi ayam akan terganggu. Akibatnya, masa bertelur justru semakin mundur, atau produksi telur tidak akan pernah mencapai grafik puncak yang optimal.

Pada akhirnya, upaya menghemat pakan karena keterbatasan modal justru membuat kerugian berjalan lebih lama.

Mengamankan Aliran Kas Sejak Awal

Kunci utama keberhasilan usaha ini bukan terletak pada seberapa banyak populasi ayam yang dimiliki di awal, melainkan seberapa aman aliran kas (cash flow) untuk menghidupi populasi tersebut hingga menghasilkan.

Bagi yang ingin memulai, ada baiknya menurunkan ego kapasitas kandang. Lebih baik memelihara 500 ekor ayam dengan jaminan modal pakan aman hingga masa produksi, daripada memaksakan memelihara 1.000 ekor namun kelimpungan membeli pakan di bulan kedua.

Membuat rekening terpisah khusus untuk biaya pakan harian selama tiga bulan pertama juga bisa menjadi langkah praktis yang menyelamatkan usaha dari risiko berhenti di tengah jalan.